Sabut kelapa merupakan limbah di rumah asap yang banyak di Teluk Pakedai. Selama ini sabut tidak dimanfaatkan, hanya ditumpuk di sekitar rumah asap, kemudian dibakar perlahan-lahan sampai habis. kenapa harus dibakar? karena sabut yang menumpuk dan dibiarkan begitu saja menjadi tempat hidup ulat, bahkan ular, yang bisa menganggu.
Dalam program KKN PPM ini, semula sabut akan digunakan sebagai bahan kerajinan, namun setelah dilakukan sosialisasi tentang program tersebut, masyarakat kurang tertarik. Hal ini karena masyarakat terbebani cara memasarkannya. Disamping itu pengerjaan sabut menjadi barang kerajinan membutuhkan ketekunan dan kreatifitas tinggi.
Oleh karenya, program pemanfaatan sabut kelapa dialihkan dengan pembuatan arang briket. Arang briket yang dihasilkan bisa mudah dijual, atau digunakan untuk keperluan sehari-hari.
Selama ini masyarakat telah membuat arang dari tempurung kelapa, tapi belum pernah mencoba arang briket.
Arang briket yang telah dihasilkan masyarakatPemanfaatan limbah tempurung dan sabut kelapa dapat menambah nilai ekonomi jika diproduksi dengan skala rumah tangga dan membantu memperbaiki hasil produksi tanaman akibat serangan hama dan penyakit (bakteri, jamur dll) jika diaplikasikan pada tanaman.
Proses Pembuatan:
1. Bahan:
Tempurung Kelapa kering 90 Kg (1 Drum), Sabut kelapa, minyak tanah.
2. Alat:
Tungku Pembakaran (Drum Modifikasi), Bambu basah (muda) ± 4 meter, botol.
Proses pembakaran tempurung kelapa
Drum hasil modifikasi yg digunakan masyarakat untuk memproduksi asap cair
Tim asap cair melakukan percobaan-percobaan sebelum melakukan pelatihan ke masyarakat
.jpg)
.jpg)
.jpg)



